[Repost] Rayuan Pak Nurdin Di Sunda Kelapa

 

Ini bukan "Rayuan Pulau Kelapa" yang menjadi judul sebuah lagu. Berawal dari iseng jalan-jalan mengunjungi Pelabuhan Sunda Kelapa II untuk hunting foto.

Kali ini Saya ingin berbagi cerita dan pengalaman menikmati paparan paras Sunda Kelapa. Bukan ikut bagian dari program pariwisata Enjoy Jakarta karena sebenarnya sudah lama punya niatan untuk itu... dan memang momennya pas dengan program promosi pariwisata pemprov DKI. Mungkin ini bagi Saya saat yang tepat berkeliling melihat keindahan ibu kota dibalik gedung-gedungnya yang menjulang tinggi. Tak lupa seorang teman, Goji, membawa kamera DSLR pinjaman untuk mencari objek foto yang tentunya akan memikat hati.

Sabtu, 15 Januari 2013, bersama 4 orang teman mengunjungi beberapa tempat seperti Museum Taman Prasasti, Kota Tua dan Pelabuhan Sunda Kelapa II. Saya, Joko, Goji, Ubay dan Raya menggunakan motor, on the road dari Pejaten, Jakarta Selatan. Perjalanan dimulai pukul 11.30 siang melewati hingar-bingar kemacetan akhir pekan.

Tujuan pertama kami yaitu Museum Taman Prasasti yang tepat bersebelahan dengan kantor Walikota Jakarta Pusat. Waktu menunjukkan kurang lebih jam 12.25 berhenti sejenak di depan gerbang museum. Menengok kanan-kiri mencari tempat parkiran motor. Selang 10 menit kuda besi pun menemukan tempat bertambat. Tiba di gerbang museum langsung membeli tiket masuk harga mahasiswa Rp 3500/orang plus brosur Enjoy Jakarta dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta.

Museum Taman Prasasti didirikan di bekas pemakaman kuno yang telah beroperasi sejak tahun 1795. Dikenal dengan sebagai Kebon Jahe Kober. Dahulu pemakaman ini diperuntukkan bagi para bangsawan dan pejabat tinggi Belanda pada masa VOC berkuasa di Batavia. Namun, seiring dengan waktu juga dipergunakan oleh umum terutama mereka yang beragama nasrani. Pada Agustus tahun 2003 Museum Taman Prasasti yang terletak di Jl. Tanah Abang I No. 1 Jakarta Pusat bergabung dengan Museum Sejarah Jakarta dalam satu manejemen.

Begitu kutipan ringkas dalam sebuah paragraf dari brosur yang kami dapat. Komplek pemakaman yang awalnya memang diperuntukkan bagi bangsawan dan pejabat tinggi Belanda. Kini tempat itu menjadi satu dari sekian banyak saksi bisu sejarah pemerintahan zaman penjajahan.

 

Museum Taman Prasasti: Tugu Di Pelataran Museum Taman Prasasti

 Berburu Nuansa Neo-Gothic

Mata kami mulai menuntun langkah demi langkah menyusuri lokasi situs sejarah peninggalan pemerintah Kolonial Belanda. Susunan makam dan ukiran-ukiran prasasti menghiasi taman pemakaman yang rimbun dibawah hijau pepohonan. Sejuk dengan hembusan angin yang perlahan menghilangkan rasa gerah tubuh kami yang berpeluh keringat selama berkendara menuju lokasi.

Goji dengan kameranya mulai beraksi mengamati beberapa objek. Tidak ketinggalan Saya yang berbekal kamera ponsel Nokia-C5 ikut mengabadikan peninggalan bersejarah ini. Awalnya kami berpikir cuma kami yang ada di lokasi untuk mengambil gambar, ternyata ada beberapa remaja yang sedang asyik jeprat-jepret. Bahkan sempat kami melihat seorang fotografer profesional bersama asistennya dengan peralatan lengkap. Mengambil gambar seorang model perempuan bergaun kuning dengan latar tugu prasasti yang berdiri tegak. Mungkin mereka sudah 'bertempur' berjam-jam disana melawan redupnya cahaya lokasi pemakaman.

Museum Taman Prasasti: Hiasan nisan makam seorang pendeta

Jika si fotografer pro menyiapkan seorang model khusus untuk fotonya justru kami memanfaatkan 'aset' yang ada. Saya, Joko, Ubay dan Raya menjadi foto model dadakan untuk bidikan kamera Goji. Sesekali Saya juga ikut mengambil gambar bertema Gothic dengan memanfaatkan fasilitas sephia dan black/white dari kamera ponsel. "Pose dan fotonya mirip anak band," ujar Joko mengomentari hasil jepretan Saya. Secara bergantian Joko dan Raya menjadi model, sesekali Ubay juga ikut berpose meski sedikit menolak dan harus dipaksa.

Museum Taman Prasasti: Raya dan Joko pose ala band Gothic

Tema Gothic memang pas dengan lokasi. Museum Taman Prasasti kaya akan berbagai gaya arsitektur klasik, neo-gothic, dan Hindu-Jawa. Seni pembuatan nisan makam dari abad ke-17 sampai ke-20. Bangunan utamanya yang dibangun pada tahun 1844 juga menjadi unsur penting dalam lintasan sejarah. Bangunan di depan komplek pemakaman tua ini adalah bangunan bergaya Doria yang disediakan untuk menyemayamkan jenazah sebelum upacara penguburan. Terdapat dua sayap di kiri dan kanan, masing-masing untuk menempatkan jenazah pria dan wanita.

Puas rasanya hati dan mata ini setelah wara-wiri memilih target bidikan yang pas. Lelah pun mendera pandangan yang sedikit memudar karena terus-menerus fokus pada layar kamera. Hampir satu jam berkeksplorasi di Museum Taman Prasasti. Saatnya beristirahat sejenak mencari tempat sholat dan warung kopi.

Melepas penat sambil sedikit merenung itu yang Saya lakukan. Selama berkeliling kami menyaksikan betapa terbengkalainya situs bersejarah ini. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan lokasi lain, tidak terurus dan penuh jejak aksi vandalisme disana-sini. Sangat kontras dengan yang Saya lihat dari dalam brosur yang kami terima saat membeli tiket masuk. Warga yang bermukim disekitar museum yang umumnya masih bocah dengan leluasa masuk dan bermain tanpa pengawasan pengelola museum.

Museum Taman Prasasti: Tak terawat dan penuh sisa aksi vandalisme

"Ah, sudahlah... Ini sudah jadi rahasia umum dan harap maklum." mungkin ini yang tepat untuk menggambarkan sifat permisif birokrasi. Sepertinya pemakaman yang memang diperuntukkan untuk mengubur (baca: menyembunyikan) 'kebusukan' menjadi salah satu tempat teraman. Tempat paling aman sebagai contoh dari metode menutupi bobroknya kultur birokrasi.

Museum Taman Prasasti: RIP (Birokrasi?)

Usai beristirahat kami pun melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya bersepakat untuk mengunjungi Kota Tua terlebih dulu. Selama perjalanan kami sempat terpisah dari pemandu jalan kami, Raya, yang sendirian menggunakan motor. Kebetulan memang dia yang hafal lokasi-lokasi yang kami tuju. Hanya saja kemacetan jalan raya menuju lokasi tak dapat terhindarkan. Sulit bagi kami yang awam dengan jalan ibu kota ini untuk mencari jalan alternatif.

Rayuan Sunda Kelapa

 

Sunda Kelapa II: Gerbang laut utara Jawa.

"Welcome to Kota Tua Batavia," gumam Saya dalam hati. Makin bersemangat rasanya meski keringat mulai bercucuran lagi karena terik matahari yang begitu panas. Kami menghentikan laju motor di pintu masuk Kota Tua. Serombongan gadis-gadis belia bertopi safari melintas didepan kami menunggangi sepeda berwarna merah muda. Seorang diantara mereka juga ada yang menenteng kamera DSLR.

Sepertinya bukan mereka saja, tentu masih ada banyak lagi yang antusias untuk narsis dan eksis... dan memang benar. Seharusnya Saya menyadari kalau memang Kota Tua menjadi tempat eksotis yang paling diminati untuk hunting foto bertema Djakarta Tempo Doeloe. Akhirnya niatan untuk menikmati panorama Kota Tua kami urungkan. Mengingat lokasi yang begitu ramai dan waktu yang sudah menjelang sore.

Mau tidak mau harus urun rembug untuk memutuskan tujuan perjalanan selanjutnya. Ubay yang sebelumnya sudah punya pengalaman mengunjungi Pelabuhan Sunda Kelapa II memberikan saran. Sore hari adalah saat yang tepat untuk mengunjungi Sunda Kelapa. Tentu saja pemandangan Sun Set di sore hari akan sangat memukau. "Ada banyak view buat ambil foto," tambah Ubay.

Pukul 15.15 kami tiba di lokasi meski sempat tersasar mencari pintu masuk Pelabuhan Sunda Kelapa II. Heran bercampur penuh tanda tanya terlihat dari ekspresi wajah kami. Gambaran yang kami dapat dari penjelasan Ubay jauh berbeda dengan kondisi di lapangan. Puluhan kapal-kapal barang berukuran sedang yang sedang bongkar muat berjejalan memenuhi pandangan mata. Sepanjang badan pelabuhan berjejer truk-truk fuso seperti anak ayam yang sedang mengantri giliran makan.

Sunda Kelapa II: Pelabuhan penuh sesak.

Kepulan debu, asap, butiran halus seukuran zarah berwarna cokelat berterbangan dari ratusan tumpukan sak semen. Hidung kami tambah tak berdaya menahan polusi udara bercampur bau menyengat oli bekas dari pipa pembuangan kapal. Pemandangan yang lazim ditemukan saat hari-hari sibuk pelabuhan bongkar muat. Sadar dengan kondisi yang tidak mendukung Saya dan Goji mencoba mengambil gambar seadanya. Menyusul Joko di belakang yang sama-sama belum pernah dan masih penasaran dengan Pelabuhan Sunda Kelapa II. Sedangkan Raya dan Ubay beristirahat menjaga motor yang sedang diparkir.

Sekilas tentang pelabuhan tua ini:

Meskipun sekarang Sunda Kelapa hanyalah nama salah satu pelabuhan di Jakarta, daerah ini sangat penting karena desa di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal-bakal kota Jakarta yang hari jadinya ditetapkan pada tanggal 22 Juni 1527. Kala itu Kalapa, nama aslinya, merupakan pelabuhan kerajaan Pajajaran yang beribukota di Pakuan (sekarang kota Bogor) yang direbut oleh pasukan Demak dan Cirebon. Walaupun hari jadi kota Jakarta baru ditetapkan pada abad ke-16, sejarah Sunda Kelapa sudah dimulai jauh lebih awal, yaitu pada zaman pendahulu Pajajaran, yaitu kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Tarumanagara pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera." — Dikutip dari laman Wikipedia Indonesia.

Cerita pun berlanjut dengan cahaya matahari yang mulai menyingsing ke ufuk barat. Beberapa menit kami habiskan untuk memotret. Tiba-tiba dari balik celah kapal yang berhimpit ada seorang tua di atas sampan kayunya melambaikan tangan ke arah Goji. Goji pun menghampiri pria tua bertopi itu yang sedang duduk di sampan bersama seorang gadis kecil di pangkuannya. Saya jadi penasaran lalu ikut menghampiri dari belakang Goji. "Ayo naik sini, kita keliling sampai ujung pelabuhan..." katanya membuka obrolan. Goji dengan isyarat tubuhnya menolak halus tawaran itu.

Sunda Kelapa II: Perkenalan dengan Pak Nurdin

"Siapa itu, Ji?" tanya saya penasaran. "Bapak itu penarik sampan sini...tadi pas duluan kesini sudah ketemu nawarin naik sampan" jawab Goji. Ternyata pria yang sudah dipenuhi keriput di wajahnya itu berprofesi sebagai penarik sampan. Kami bertiga pun bergegas meninggalkannya dengan sedikit basa-basi, melanjutkan agenda yang sedikit tertunda.

Beberapa foto berhasil kami ambil diantara truk yang hilir mudik meninggalkan asap dan debu yang berterbangan mengaburkan pandangan kami. Ada yang unik saat mengambil gambar...serombongan gadis belia bersepeda merah muda di Kota Tua berpapasan kembali dengan kami. Mereka juga sibuk seperti kami. Hanya saja Saya tahu persis tujuan mereka sekadar berekreasi lantas bernarsis ria dengan kameranya.

Selama disana tidak sedikit wisatawan luar negeri dan domestik berlalu lalang. Dari yang berjalan dengan panduan seorang tour guide, menggoes sepeda ontel, serta beberapa turis asing yang menggunakan perahu motor mengarungi muara kali Ciliwung hingga ujung pelabuhan. Ada juga beberapa diantara mereka yang menaiki kapal yang sedang bersandar. Melihat mereka yang percaya diri berfoto di atas kapal kami bertiga memberanikan diri untuk ikut naik.

Setelah mendapat lampu hijau dari ABK yang sedang sibuk membetulkan mesin katrol kami bertiga satu per satu menaiki kapal — kalau tidak salah — bertuliskan "Lamallise". Harap-harap cemas menaiki kapal ini karena takut mengganggu aktifitas para ABK yang sepertinya sedang kejar target.

Hampir satu jam waktu berlalu dan kami bertiga memutuskan untuk turun dari kapal. Saya sempat berbincang sebentar dengan Goji karena masih penasaran dengan tawaran pria tua bersampan tadi. Kami berdua lalu sepakat untuk menemui penarik sampan yang belakangan kami kenal dengan nama Nurdin. Tidak sulit menemui Pak Nurdin, begitu kami menyapanya, karena beliau masih menunggu calon penumpang sampan tuanya.

Sunda Kelapa II: Mengayuh Senja.

Setelah tawar-menawar harga akhirnya dengan uang Rp 25 ribu — setengah dari harga pembuka oleh Pak Nurdin — terbayar sudah rasa penasaran kami. Nurdin seorang kakek yang sudah 40 tahun mengais rizki di pesisir utara Jakarta menemani kami menyusuri muara pelabuhan Sunda Kelapa II. Pesisir ibu kota yang selalu sendu di kala senja memerah dan kian kontras dengan latar gedung bertingkat menjulang tinggi. Mencakar langit biru yang kian menjauh dari pandangan. Menutup hari-hari melelahkan para buruh kasar pelabuhan.

Sunda Kelapa II: Menerawang Jauh.

Sunda Kelapa II: Hidupku.

Jakarta: Dunia yang kontras.

Sungguh menyenangkan karena ini kali pertama Saya menaiki sampan selain memang objek disini cukup bagus untuk penikmat fotografi seperti Goji. Sampan dengan ukuran sekitar 1x5 meter ini mengangkut kami bertiga bersama Pak Nurdin dan Putri. Tidak ada cerita khusus dari Pak Nurdin dan Putri. Hanya saja cucu dari pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, sedikit banyak menyita perhatian Saya. Cucu kesayangan Pak Nurdin ini tidak seperti anak-anak seusianya. Gadis kecil berusia sekitar 7 tahun yang sepertinya mengalami (maaf) keterbelakangan mental down syndrom. Paras wajahnya yang riang memancarkan roman seorang Putri begitu menikmati hari-hari bersama sang kakek.

Sunda Kelapa II: Pak Nurdin dan cucunya, Putri.

***

Sabtu, 15 Juni 2013 menjadi kali pertama bagi saya menginjakkan kaki di pesisir utara Jakarta. Sunda Kelapa II menjadi tempat singgah yang penuh rayu mengakhiri perjalanan kami hari itu dengan penuh harap dan doa.

Kami pun lekas beranjak dari pelabuhan tua itu disambut dengan awan mendung dan gerimis yang mengawali rintik hujan. Kembali ke Pejaten dengan sejuta rasa. Masih ada cerita-cerita menarik yang tidak bisa Saya uraikan dalam tulisan kali ini.

Sunda Kelapa II: Bocah pesisir.

Sepulang dari lokasi hunting foto sempat menyaksikan sebuah bajaj terbakar di salah satu pertigaan jalan Gunung Sahari. Bahkan Goji dan Ubay yang harus tertinggal dari rombongan karena harus 3 kali menambal ban motor selama perjalanan pulang. Tak luput motor Saya harus sempat mogok karena karburator tersumbat penuh kotoran.

Benar-benar perjalanan penuh kisah dan hikmah. Semoga masih ada kesempatan untuk bersua kembali menelusuri indahnya rayuan Sunda Kelapa. Semoga.

Sunda Kelapa II: Sebuah hasrat untuk "berburu".
 
Sunda Kelapa II: Terpesona.

 ***

Note:

  1. Maaf karena banyak bercandanya karena video ini sifatnya sekadar inisiatif dan tidak direncanakan. Jadi harap maklum jika pasif, monoton, dan tidak punya tema sama sekali.
  2. Maaf jika 30 detik pertama sudah membuat leher anda pegal-pegal dan kepala terasa pusing (murni unsur kelalaian).
  3. Semoga video hasil kamera ponsel Nokia C5 yang berdurasi kurang lebih 6 menit ini menjadi pemikat bagi penikmat dan pegiat fotografi.
Little Kiara
Husband, (formerly) Coffee Lover, Progressive Rock, A loving husband [?]. Married to a (currently) honorary angel in a regency in South Sumatra. Spoiled in his wife's arms and likes to follow his wife from the kitchen to other activities.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter